Monday, January 14, 2008

DON’T JUDGE A BOOK FROM ITS COVER


DON’T JUDGE A BOOK FROM ITS COVER

(SENI MERAYAKAN HIDUP DALAM KEBERAGAMAN)


PENDAHULUAN


Dalam kampanye pemilihan presiden di Amerika Serikat kali ini, tampil satu tokoh yang fenomenal, yaitu Barrack Obama. Kenapa saya mengatakan fenomenal, sebab Obama ini bukanlah orang “pure” Amerika yang notabene “kulit putih” tetapi ia adalah warga negara Amerika yang keturunan Kenya, dan terlebih lagi ia adalah orang yang di masa kecilnya hidup yang dekat dengan kultur Asia, karena ia pernah tinggal dan bersekolah di Indonesia, bahkan lebih lagi ia bahkan pernah disebut-sebut pernah memeluk agama Islam. Padahal bukankah jika kita menilik bagaimana pandangan sebagian dunia Arab ataupun bagi negara-negara yang sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam, Amerika ini sering dilabeli sebagai negara “Kristen” yang anti Islam, bahkan belum pernah ada yang presidennya bukan berkulit putih. Melalui fenomena yang demikian ini Christianto Wibisono dalam Suara Pembaruan, menulis


Latar belakang sejarah ini sekarang mulai terkuak dan merupakan bagian dari ujian sejarah, apakah AS akan lulus sebagai negara demokrasi sejati yang tidak terhambat oleh faktor sentimen primordial seperti ras, etnis, keturunan, dan agama. Jika John Kennedy menghadapi masalah Katolik dan Mitt Romney agama Mormon, maka yang menimpa Obama adalah dua masalah sekaligus, etnis campuran imigran Kenya dan isu bahwa ia pemeluk Islam semasa hidup di Indonesia.


Sebuah tanggapan yang sangat bagus, bahwa inilah yang terjadi dalam demokrasi, ada keterbukaan, ada persamaan hak, ada persamaan derajat sebagai manusia. Hal ini berbeda dengan Indonesia, yang kata sebuah blog yang anti Indonesia mengatakan, “Kalau di Indonesia yang menjadi Presiden harus Islam, harus Jawa, kalau, yang bukan itu mana bisa?”


Mungkin bagi kita yang mendengar ini gerah juga rasanya, walaupun kalau dipikir-pikir ada juga sisi benarnya, namun sekali lagi kita jangan keburu-buru menghakimi dulu kalau negara ini pasti begitu. Tapi nggak usah nge-judge negara dululah. Kita kembali dulu kepada gereja, jangan-jangan gereja juga punya semangat yang seperti itu lho. Suatu contoh, suatu kali teman saya (yang sekarang sedang menjalani proses sebagai calon pendeta di suatu sebuah gereja) pernah cerita kepada saya, “Ron, salah satu gereja di kota itu sedang butuh hamba Tuhan, tetapi Majelisnya bilang harus yang sukunya A, soalnya kalau yang diluar A takutnya golongan dari suku A gak ada yang ke gereja. Tetapi kalau dari suku A yang jadi pendeta maka suku-suku yang lain akan masuk gereja.” Waduh saya berpikir kalau gereja yang sebagai wakil Allah di dunia ini saja seperti itu, bagaimana dengan negara dimana gereja itu ada ya? Pasti negaranya sama parahnya atau juga lebih parah daripada itu. Maka benarlah Ronald J. Sider menulis buku “The Scandal of The Evangelical Conscience” yang mengungkapkan bahwa orang Kristen di Amerika bahkan yang mengaku diri lahir baru adalah justru gereja-gereja yang mendukung rasialisme, menyedihkan bukan? Penelitian tersebut dilakukan di Amerika yang notabene adalah negara demokrasi yang menjamin kebebasan tiap individu, apalagi jika hal ini dilakukan di gereja-gereja Indonesia penulis menduga pasti hasilnya jauh lebih besar, apa sebab? Karena di Indonesia ini saja berapa banyak gereja yang didirikan karena adanya semangat kesukubangsaan? Banyak bukan? Justru hal inilah kalau tidak berhati-hati maka gereja justru menjadi ladang yang subur dalam memelihara rasialisme yang tentunya di benci oleh Tuhan. Oleh sebab itu melalui tulisan ini penulis ingin berbagi dengan warga GKI dalam menggumuli masalah ini.


MENILIK KEPADA FIRMAN TUHAN


Mari kita melihat Matius 1:1-17;

1 Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.

2 Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,

3 Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram,

4 Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon,

5 Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai,

6 Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,

7 Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa,

8 Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia,

9 Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia,

10 Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia,

11 Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel.

12 Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel,

13 Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor,

14 Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud,

15 Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub,

16 Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

17 Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.


KONTEKS DAN PENJELASAN:


Menurut tradisi Injil Matius adalah Injil yang ditulis oleh Lewi seorang Yahudi untuk meyakinkan akan bukti kemesiasan Tuhan Yesus Kristus kepada orang-orang Yahudi. Bagi banyak orang, silsilah ini ingin menunjukkan kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesus secara keturunan adalah “trah” Yahudi. Kenapa hal ini penting bagi orang Yahudi? Karena orang Yahudi adalah bangsa yang sangat menjunjung tinggi keyahudiannya, karena mereka merasa sebagai bangsa pilihan. William Barclay menulis bahwa orang-orang Yahudi dalam doanya mereka bersyukur karena mereka adalah orang Yahudi bukan bangsa Kafir. Maka tidak heran jika bangsa Yahudi tidak mau mengakui Herodes sebagai pemimpin mereka karena Herodes (Pasal 2) bukanlah bangsa Yahudi Asli tetapi adalah bangsa Idumea (Edom saudara Israel).


Pandangan yang demikian ada benarnya juga, tetapi penulis lebih memilih bahwa silsilah itu dimaksudkan justru sebagai suatu penggenapan nubuat kemesiasan Tuhan Yesus Kristus seperti yang tertulis di dalam Kitab Suci orang Yahudi. Sebab bagi orang Yahudi, Kitab Suci, yaitu Kitab Torah dan Para Nabi adalah hal yang sangat penting bagi mereka, dan kemesiasan menjadi sah dan valid jika di dalam Kitab Suci mereka telah tertulis terlebih dahulu. Kenapa penulis berkata demikian? Hal ini dikarenakan ada di antara silsilah-silsilah itu yang justru “memperlemah” keyahudian Yesus Kristus, dikarenakan adanya orang-orang yang justru di luar Yahudi, bahkan ada juga berlatar belakang kurang baik. Keempat orang itu adalah Tamar (3), Rahab dan Rut (5) dan Istri Uria [Betseba] (6). Sampai tahap ini penulis berpendapat bahwa Firman Tuhan ingin menunjukkan kepada kita bahwa ketika hidupnya di dalam dunia ini di dalam tubuh Yesus sudah mengalir darah suku-suku bangsa, dan Yesus adalah universal. Betul Yesus adalah Yahudi. Tetapi meskipun Yesus yang penulis akui sebagai Tuhan adalah orang Yahudi, bukankah bangsa Yahudi merasa bahwa ia adalah bangsa pilihan yang merasa superioritas, tetapi Yesus yang adalah Tuhan menggoncang dasar kesuperioritasan Yahudi dengan dialirkan darah suku-suku bangsa di dalam tubuhnya yang mulia, sungguh indah dan luar biasa.


Dalam Injil matius pasal yang pertama ini saja Yesus sudah mengguncangkan kita bahwa sebenarnya Yesus telah menebus dan mendudukkan suku-suku bangsa di dalam satu tubuh yang paling mulia yaitu tubuh Kristus sendiri, seluruh suku-suku bangsa telah diperdamaikan untuk hidup bersama di dalam tubuh yang Mulia yaitu Yesus Kristus sendiri. Bukankah sekarang tubuh Kristus di masa sekarang itu adalah gereja itu sendiri, yang sudah diperdamaikan oleh darah Kristus untuk bisa duduk diam, hidup bersama-sama, hidup berdampingan satu sama lain dalam kadar, derajat yang sama sebagai manusia yang sudah sama-sama ditebus seperti Firman Tuhan, “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya” (Roma 10:12).


Memang membicarakan masalah ini secara teoritis sangatlah mudah namun di dalam kenyataannya, banyak sekali rintangan-rintangan dan hambatan-hambatan yang ada untuk kita bisa duduk dalam derajat dan harkat yang sama? Maka di bawah ini penulis mencoba untuk memikirkan rintangan-rintangan dan hambatan-hambatan untuk kita bisa melaksanakan Firman Tuhan ini?


HAMBATAN-HAMBATAN


KESUPERIORITASAN SUKU BANGSA


Kita tidak bisa menutup mata bahwa setiap bangsa akan mengklaim kesuperioritasannya. Mau tidak mau, suka tidak suka kita mengakui ini, kita dilahirkan ke dalam dunia ini dengan membawa “gen superior” menganggap bangsa sendiri sebagai bangsa yang lebih unggul dari bangsa yang lain. Bukankah sejarah telah membuktikan bahwa “pembersihan” etnis kerap terjadi di dalam dunia ini karena merasa bahwa bangsa sendiri lebih unggul? Hitler bersama bangsa Arya Jermannya merasa superior dan mengakibatkan pembersihan “holocoust” etnis Yahudi, Ku Klux Klan berkulit putih yang ingin menghabisi warga Afro-American yang hitam, politik “Apartheid” di Afrika yang berusaha menyingkirkan hak-hak suku Aborigin, yang ironisnya peristiwa-peristiwa tersebut justru memperoleh “dukungan mesra” dari gereja pada masa itu. Ya, gereja mempunyai sejarah yang kelam dengan masalah rasialisme ini yang berpangkal pada kesuperioritasan sebuah bangsa sehingga ingin menghancurkan bangsa yang lain dan memandang bangsa yang lain lebih rendah.


Di dalam Firman Tuhan pernah ada yang menggumulkan masalah ini, Ahli Taurat sebagai orang yang taat beragama bertanya tentang hidup kekal, dan bertanya “Siapakah sesamaku manusia?” (Lukas 10:29), dengan demikian pertanyaan ini menyiratkan bahwa orang lain tidak otomatis sama. Dalam menjawab pertanyaan ini Tuhan Yesus menggunakan suatu cerita:


30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.


Ini adalah cerita yang sudah kita kenal bukan? Ada seorang yang dirampok, tetapi disitu berturut-turut ada seorang Imam dan Lewi yang lewat, tetapi mereka tidak melakukan apa-apa, mereka menghindar. Sebagai manusia mungkin mereka bersimpati tetapi tidak punya aksi karena jangan-jangan mereka malahan ikut-ikutan dirampok. Sedangkan orang Samaria bukan hanya simpati, dan bukan Cuma advis, tetapi punya aksi yang konkret. Perumpamaan ini menyentak, sebab orang Yahudi dan orang Samaria telah lama bermusuhan dan tidak saling sapa, karena menganggap diri mereka lebih baik. Apa yang membuat orang Samaria ini memiliki aksi yang demikian mulia, karena ia memiliki hati yang berbelas kasih yang menembus batas-batas etnis dan agama.


Sampai di sini Yesus tidak meneruskan ceritanya, malah Yesus balik bertanya, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"


Mengapa Yesus tidak menjawab pertanyaan ahli Taurat “Siapakah Sesamaku Manusia?” Bagi Yonky Karman, pertanyaan itu adalah keliru, sebab berarti ada orang yang termasuk kelompokku tetapi ada juga orang yang bukan termasuk kelompokku. Atau lebih jahat adalah ada orang yang masuk kelompokku adalah manusia tetapi ada orang yang memang manusia tetapi bagiku bukan manusia. Sehingga pertanyaan yang demikian menempatkan si penanya sebagai pemberi kriteria siapa saja yang menjadi sesamanya dan yang bukan sesamanya, karena tidak semua orang adalah sesamanya.


Oleh sebab itu Tuhan Yesus mengubah pertanyaannya, menghancurkan dasar dan logika berpikir orang Yahudi yang merasa superioritas itu dengan pertanyaan siapakah yang menjadi sesama bagi orang yang malang itu? Kriteria sesama tidak lagi ditentukan oleh si penanya tetapi orang yang membutuhkan pertolongan yang membutuhkan pertolongan dari siapa saja, sederhananya pertanyaannya menjadi sudahkah aku menjadi sesama bagi orang lain?


PELABELAN SUATU SUKU BANGSA


Hal selanjutnya yang merintangi kita untuk bisa menerima suku-suku yang lain adalah kita terlanjur dicemari dengan “stereotip–stereotip” tertentu. Misalnya orang Jawa hanya bisa menjadi pembantu Rumah Tangga, Gadis-gadis Manado adalah gadis-gadis yang berat diongkos, Kalau kita bertemu kernet bus kota pasti orang Batak, dll. Hal-hal tersebut adalah pikiran-pikiran yang telah teracuni. Kita lupa bagaimanapun suatu bangsa mempunyai tradisi dan ciri khasnya masing-masing, tetapi pribadi orang tetap berlain-lainan. Namun masalahnya kita sudah cenderung dengan gampang memberi “label” kepada mereka.


Dalam Injil Yohanes 1:46 diceritakan Natanael pernah mempertanyakan atau lebih tepat dibilang dengan memperolok Yesus dengan berkata: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Pertanyaan Natanael tentang Yesus yang berasal dari Nazaret ini bukanlah tanpa alasan. Menurut R.T. France, Nazaret bukanlah kota penting, hanya kota kecil yang tidak lebih dari desa yang tidak terkenal, tanpa arti dalam sejarah, namun terlebih lagi adalah kota itu setengah kafir, jadi jelas bagi seorang Yahudi sejati pergaulan dengan sesuatu yang kafir kalau bisa dihindari. Jadi Natanael sudah memasang “cap” kepada Yesus. Cap atau label yang diberikan kepada Yesus bukanlah cap yang baik tetapi adalah cap yang “mengeneralisasi yang sebenarnya tidak general.” Natanael tidak mengenal Yesus, Natanael belum bertemu dengan Yesus, belum menyelidiki tetapi langsung menyimpulkan, dan kesimpulannya adalah kesimpulan yang salah.


Tetapi Yesus menjawab Natanael yang datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!(Yoh 1:47)" Label buruk yang dialamatkan Natanael kepada Yesus, tidak ditanggapi sebagai gantinya Yesus justru memuji Natanael sebagai orang Israel sejati yang tidak ada kepalsuan di dalam diri Natanael. Yesus mengatakan ini bukan tanpa maksud, dan bukan hanya sekedar melempar bola balik, tetapi Yesus mengatakan ini dengan analisa yang cermat nggak “asbun alias asal bunyi” karena di ayat 48, Natanael bertanya, "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus, "Sebelum Filipus mengatakan mengenai Aku kepadamu, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Yesus Melihat, mengamati, menyelidiki bagaimanakah sifat Natanael. Yesus memberikan pandangannya kepada Natanael secara personal, dan bukan “gebyah uyah.” Frase “inilah seorang” adalah menunjukkan suatu kepersonalitasan Natanael secara utuh dan lengkap dan bukan yang lain, hanya Natanael. Selain itu Yesus mengamati dengan cermat pula, sebab frase “di bawah pohon ara," adalah menunjukkan suatu kegiatan yang bukan sembarangan, tetapi mengacu kepada tindakan berdoa, mempelajari kitab-kitab, dan beribadah. Dan Yesus mengetahui ini dengan suatu proses analisa dan bukan hanya sekedar kata orang dan sentimen pribadi. Inilah yang sebenarnya mesti kita ingat seperti sikap Yesus ketika kita ingin menilai seseorang, yaitu kenali secara pribadi.


ADANYA LUKA BATIN DALAM SEJARAH


Setiap kehidupan manusia memiliki sejarah karena manusia hidup dalam ruang dan waktu. Karena manusia hidup dalam ruang dan waktu maka akan ada berbagai macam peristiwa di dalam kehidupannya. Masalahnya tidak semua sejarah itu baik, sejarah yang baik akan kita kenang sebagai kenangan yang memberi semangat. Tetapi sejarah kita juga kadang-kadang diwarnai dengan kesedihan. Kesedihan inilah bisa mengakibatkan luka batin dalam sejarah kita. Luka-luka itu bermacam-macam, adanya perlakuan yang tidak adil karena menjadi satu suku bangsa tertentu, hak-hak kita merasa diinjak-injak karena kita sebagai satu suku bangsa tertentu, kita tidak mendapatkan perlindungan hukum yang memadai karena kita sebagai satu bangsa tertentu. Dalam segala abad permasalahan-permasalahan seperti ini akan terus muncul, masalahnya bagaimanakah kita menyikapinya.


Dalam Kitab Suci disebutkan adanya kisah Yesus yang menemui seorang perempuan Samaria, kisah ini sangat kompleks. Pertentangan antara Yahudi dan Samaria, Pertentangan tempat menyembah, dan juga masalah “pribadi” wanita ini yang bersuamikan banyak orang, yang tentunya juga dikucilkan. Tetapi Yesus ingin membebat “luka-luka sejarah” di dalam hidup wanita Samaria ini, Yesus mendatangi dengan sikap yang bersahabat sehingga luka sejarah itu dapat segera dibereskan. Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria) [Yohanes 4:9]. Sebagai suku bangsa, orang Samaria dan orang Yahudi punya sejarah yang kelam, mereka tidak bergaul, tidak bertegur sapa, saling menjatuhkan. Tetapi sekarang Yesus datang untuk menawarkan kesembuhan batin atas luka sejarah yang pernah dialami. Mereka yang tidak pernah berelasi, kini berelasi, mereka yang tidak pernah bertegur sapa kini bertegur sapa.


Pada bagian ini lebih unik lagi karena peristiwa pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria ini adalah pertemuan di sumur, di mana para gadis atau wanita sedang menimba air. Di dalam perjanjian lama, peristiwa menimba air dan pertemuan di sumur adalah pertemuan dalam menemukan pasangan hidup. Contohnya ketika, Ishak dicarikan jodoh, diawali dengan peristiwa di sumur dan menimba air. Sehingga jika dikaitkan secara teologis, Yesus yang adalah Tuhan sedang mencari mempelai perempuan bagi-Nya. Dan gereja adalah mempelai perempuan yang sudah ditemukan oleh Tuhan Yesus Kristus. Mempelai perempuan yang sudah terbuang, tidak layak, tidak berharga, berdosa, kini dipulihkan kembali. Yesus menebus gereja-Nya, Yesus menebus suku-suku bangsa, karena Yesus mengasihinya.


Sehingga jelas di dalam Yesus luka-luka batin sejarah kita seharusnya sudah ditaklukkan oleh Kristus. G. K. Chesterton pernah berkata “Apakah yang salah dengan dunia ini?” dan dengan tegas ia menjawab “Sayalah masalahnya.” Kita mungkin di dalam pergumulan luka batin sejarah bangsa kita bertanya, tanya dalam hati tentang ketidakadilan, ketidaksempurnaan. Seperti Chesterton harusnya kita berani berkata “Sayalah masalahnya” karena apapun itu yang menimpa kita, seringkali ada juga andil kita di dalamnya, entah kadarnya banyak entah itu sedikit. Kenapa bisa demikian? Seperti yang penulis yakini, kita adalah manusia yang berdosa. Bukankah akibat dosa yang pertama adalah manusia membunuh manusia lainnya?(peristiwa kain dan habil). Dan itu akan terus ada sepanjang kita tidak menyadari ada anugerah yang lebih besar untuk memampukan kita untuk tidak mengulanginya. Tetapi puji Tuhan, Yesus Kristus menang atas maut untuk menebus manusia, untuk menebus peradaban, menebus tradisi, untuk ditundukkan dibawah hukum Allah, yaitu hukum kasih dan anugerah-Nya.


SOLUSI


Pergumulan tentang perbedaan itu akan selalu ada di sepanjang abad, tetapi hendaknya gereja Tuhan menjadi teladan di garis depan untuk mewujudkan adanya satu bentuk persatuan, persamaan hak, derajat, martabat dari setiap manusia. Sebab jika gereja, sebagai wakil Allah, dan juga sebagai tempat pelatihan Kerajaan Allah di dunia ini gagal untuk memberikan teladan dan sumbangsih ini, kepada siapa lagi dunia akan mencari teladan. Firman Tuhan "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang (Matius 5:13).” Gereja Tuhan di negara Indonesia harus menangkap visi ini. Sebab kata Indonesia menunjukkan suatu kemajemukan budaya, suku bangsa, yang begitu beragam.


Pada saat saya masih berkuliah di Malang, saya mengikuti kebaktian di salah satu geraja Malang. Pada saat itu yang berkhotbah adalah seorang dosen di salah satu sekolah teologi injili di Malang. Dalam khotbahnya beliau menyampaikan bahwa Gereja masa depan Indonesia adalah gereja yang Multi-Etnis, hal ini dikarenakan karena latar belakang bangsa yang beragam dan plural. Gereja di Indonesia yang baik bukan lagi gereja yang mengedepankan kesukuannya, tetapi adalah gereja yang dapat menampung berbagai macam suku bangsa dapat hadir beribadah, dan menikmati ibadah. Karena demikianlah nanti suasana surga, seluruh bangsa akan bersatu berkumpul dan menyembah Yesus Kristus sang Kepala Gereja. Pada saat Hamba Tuhan tersebut berkhotbah, iseng-iseng saya melepaskan pandangan ke seluruh ruangan gereja itu. Karena saya laki-laki normal maka yang saya lihat adalah gadis-gadis yang hadir kebaktian. Saya takjub, gadis-gadis dari berbagai macam suku bangsa, baik dari yang berkulit putih sampai hitam, dari yang berambut keriting sampai yang lurus, dari yang matanya sipit sampai yang bulat, dan menurut pandanganku saat itu semuanya cantik-cantik, dalam hati saya berteriak Puji Tuhan, Allah sungguh Ajaib.


Oleh sebab itu mungkin ada beberapa hal yang harus gereja Tuhan lakukan supaya kita menjadi gereja yang memang Multi-Etnis:


MENJADI SESAMA


Sikap merendahkan diri dan memjadi sesama sangat diperlukan, yang masing-masing tidak merasa bahwa dirinya adalah paling baik. Seperti yang saya ingat, Pdt. Eka Darmaputera pernah menulis bahwa ketika seseorang dilahirkan ke dalam dunia ia tidak bisa memilih, itu adalah sesuatu yang “given” atau dari sononya tentunya sesuai dengan hikmat-Nya, karena sudah dari sononya kita adalah sama-sama ciptaan, memandang rendah ciptaan dan hikmat-Nya dalam menciptakan manusia, berarti memandang rendah Allah Sang Pencipta. Sehingga yang perlu diingat adalah kita ini sama-sama manusia, mensyukuri apa yang Tuhan sudah tetapkan. Maka itu kenalilah sesama kita secara personal, dan bersahabat dengan siapa saja.


REKONSILIASI


Sikap ini diperlukan, bagi kita yang pernah terluka oleh perlakuan ketidakadilan karena kita sebagai satu suku bangsa. Henry Nouwen pernah menulis, bahwa yang terlukalah yang mesti menyembuhkan. Bagi saya hal ini adalah Alkitabiah, karena sesuai dengan apa yang Allah perbuat. Karena manusia yang berdosa maka Allahlah yang menyelesaikannnya dengan mengirimkan Yesus ke dunia.


Satu kali saya berkata kepada Boksu yang orang Tiong-Hoa, “Saya benci orang Tiong-Hoa!!!” hal ini karena saya merasa dilecehkan di gereja hanya sebagai “bolo dupak” (Teman yang ditendang) artinya kalo ada pekerjaan yang menyangkut kerja bakti saya diundang untuk membantu segala perlengkapan angkat junjung, pada saat itulah saya diperlakukan sebagai “teman”. Tapi, giliran ada kegiatan yang lebih asyik, ada pesta sedikit, kumpul-kumpul, makan-makan, gak pernah diinget bahkan kenalpun tidak, saya sakit…kit…kit. Boksu diam, lalu beliau berkata, “Ron, saya juga benci orang Jawa, bayangkan Ron sejak saya kecil sampai SMA saya selalu menjadi bulan-bulanan orang Jawa.” Mereka berkata, “Hai ada Cina gendut, ayo kita serang!!!!!” Sehingga hal ini membuat dia trauma dan benci dengan orang Jawa. Saya sadar, saya terluka dengan orang Tiong-Hoa. Demikian juga Boksu pernah terluka dengan orang Jawa. Lalu Boksu berkata, “Ron, maafkan bangsaku telah membuatmu terluka.” Sayapun berkata, “Boksu, maafkan bangsaku yang telah membuat Boksu terluka.” Kami menangis, kami berjabat tangan dan berdoa, ada kedamaian yang indah, beban bertahun-tahun itupun lepas. Apalagi sekarang, he.. he setelah bertahun rekonsiliasi tersebut, sekarang aku justru mendapatkan calon istri orang Tiong-Hoa, orang tuanya sudah setuju lagi, Puji Tuhan.


MENGUTAMAKAN FIRMAN TUHAN


Banyak umat Tuhan mengerti Alkitab, tetapi persoalan mau tunduk dan tidak adalah soal yang lain. Bagi Tuhan Yesus, silsilah di dalam diri-Nya ingin menunjukkan selain suku bangsa juga ada berbagai macam tradisi yang mengalir di dalam diri-Nya sebagai orang “Yahudi.” Tetapi yang membedakan adalah, Yesus tahu bahwa baik diri-Nya, hidup-Nya, tradisi yang mengalir di dalam darah-Nya, suku bangsa yang mengalir di dalam darah-Nya ditundukkan kepada Bapa yang disembah-Nya. Sehingga jelas di sini, siapa mengontrol siapa. Yang absolute mengontrol yang relatif. Masalahnya siapa yang absolute bagi kita?

No comments: